Area Baca

3/01/2014

Mengenal fakta tentang Daendels dan Pendidikan di tanah air

Daendels atau lengkapnya Herman Willem Daendels lahir pada 21 October 1762 sangat dikenal di Indonesia karena pembangunan jalan dari Anyer sampai Panarukan dengan panjang sekitar 1000km. Selain terkenal karena proyek jalan dari Anyer sampai Panarukan, Daendels  juga turut andil dalam sejarah pendidikan yang ada di Indonesia, meskipun pendidikan pada masa kepemerintahannya mengalami kegagalan.

Sekitar Bulan Juni 1810, Daendels berkunjung ke Cirebon dan menyaksikan sendiri bahwa rakyat pribumi mengalami kehidupan yang sungguh tidak layak, yaitu tidak mendapatkan pendidikan serta mereka benar-benar buta huruf secara total. Karena pada dasarnya Daendels sangat terobsesi dengan dunia pendidikan dan dia pun penggemar berat Rene Descartes karena pemikirannya yang ingin memperkenalkan ilmu pengetahuan kepada setiap orang, maka Daendels ingin mewujudkan mimpinya untuk mengajarkan pendidikan kepada rakyat pribumi.

Sekolah pertama yang didirikan adalah Sekolah Ronggeng dan memiliki tujuan ingin mengenalkan siswa didik pada lingkungan sekitar serta mengenalkan program melek huruf. Sekolah ini dibentuk setelah adanya persetujuan dari Pangeran Cirebon.

Setelah itu, Daendels pun melanjutkan pembangunan sekolah yang berfokus pada kebidanan karena ia melihat begitu banyaknya angka kematian bayi yang baru lahir dan minimnya sarana kesehatan yang memadai. Pembangunan Sekolah bidan dilangsungkan pada tahun 1811 bertempat di Batavia. Sekolah bidan merupakan sekolah pertama dalam dunia kedokteran karena pada saat itu belum ada sistem pendidikan yang terstruktur.

Daendels memang terkenal kejam pada masanya, namun dalam penelitian sejarah terakhir ditemukan bahwa daendels tidaklah sekejam seperti yang selama ini diberitakan.  Dalam kasus anyer panarukan, tidak disebutkan bahwa Daendels menggunakan buruh upah, dan setelah keuangan untuk proyek tersebut habis dari perkiraan awal, maka bekerja sama dengan para bupati untuk menyiapkan tenaga kerja dengan permintaan agar bupati juga menyediakan kebutuhan pangan dan bebas masa kerja kepada bupati selama menyelesaikan proyek tersebut.  Banyak pejabat lain yang tidak suka pada masa pemerintahannya seperti Prediger, Nicolaas Engelhard dan Nederburgh dan mereka pun menulis berita mengenai keburukan Daendels dan mengirimkannya ke Belanda. Hal ini yang menjadi sumber sejarah para sejarawan Indonesia sehingga mereka memiliki kesalahan persepsi hingga saat ini.